Pohuwato – Drainase di Desa Bunuyo, Kecamatan Paguat, Kabupaten Pohuwato, Gorontalo ternyata selama ini tidak lagi dapat digunakan oleh para petani.
Sebab sedimentasi lumpur yang berada di Drainase areal persawahan para petani sudah setinggi drainase itu sendiri. Sehingga air tak lagi mengalir melalui drainase tersebut.
Terpaksa empat tahun belakangan ini para petani telah membuat pematang baru di samping Drainase Tersier untuk mengairi areal persawahan mereka.
“Kurang lebih 5 tahun ini drainase sudah tidak terpakai lagi. Sebab drainase itu sudah tidak bisa dimasuki oleh air karena tumpukan lumpur sudah tebal dan tingginya sudah menyamai drainase itu sendiri,” ungkap Une, salah satu petani di Desa Bunuyo.
Para petani saat ini mulai sumringah, hal itu dikarenakan para penambang Lokal Merah Putih Paguat Dengilo saat ini telah membuka kembali Drainase Tersier itu. Dengan memperkerjakan para petani itu sendiri.
“Jadi, Alhamdulillah saat ini drainase itu mulai dikerjakan oleh para penambang lokal Merah Putih. Dan kami bersyukur yang diminta oleh para penambang lokal yang bekerja di tempat itu kami para petani juga. Jadi kami pun tak hanya merasakan dampak dari mulai baiknya sumber air ke areal persawahan, akan tetapi ekonomi kami pun terbantukan dengan mengambil upah sebagai pekerja drainase itu sendiri,” tegas Une.
Disamping itu, Ikbal Rasyid mengaku tanpa harus menyebut siapa perusak sebenarnya. Tapi para penambang lokal Merah Putih Paguat Dengilo saat ini lebih mengedepankan asas manfaat langsung bagi petani. Tanpa secara seremonial berbuat untuk para petani.
“Saat ini kami menyentuh para petani dengan betul-betul turun dan menanyakan langsung apa yang menjadi kendala para petani itu sendiri. Kami tidak akan menyebut, kami tau itu drainase rusak akibat kiriman sedimentasi para penambang terdahulu. Kami bersyukur saat ini drainase yang mati itu sudah mulai dibuka kembali agar air yang masuk ke areal persawahan mulai normal kembali,” tegas Ikbal Rasyid.
Kata Ikbal, hari ini tambang Dengilo itu mendekati massa akhir. Artinya hari ini para penambang Merah Putih Paguat Dengilo murni masyarakat lokal yang mengais rejeki di tempat itu merupakan sisa dari apa yang telah diambil oleh penambang sebelumnya.
Pada prinsipnya para penambang lokal hari ini menganut prinsip menambang dengan memikirkan bagaimana caranya mereka juga sendiri ikut memperbaiki dan tanpa mengganggu ekosistem yang ada terutama para petani yang salam ini terkena dampak.
Ikbal juga menjelaskan kerusakan besar ini dimulai oleh mereka penambang terdahulu. Namun dirinya mengaku. Namun kata Ikbal hal tidak mungkin para penambang sebelumnya itu disebutkan juga. Karena dirinya lebih memilih memperbaiki dan memikirkan masyarakat pada umumnya. Meskipun itu bukan tanggung jawab para Penambang Lokal Merah Putih.
“Hasil bumi di areal pertambangan itu telah habis dikeruk oleh para penambang sebelumnya. Saat itu ratusan alat pernah mengeruk hasil tambang di wilayah Dengilo dan tanpa memperhatikan masyarakat petani itu sendiri. Alhamdulillah di tangan para penambang lokal Merah Putih Paguat Dengilo ini drainase mulai kami perbaiki. Karena itu memang tujuan penambang saat ini,” tandasnya.










